Monday, January 13, 2014

Resume Buku "Komitmen Da'i Sejati" (Part 1)

Komitmen Da’I Sejati
*      Jika komitmen da'i terhadap dakwah benar-benar tulus…., maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
*      Jika komitmen da'i terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fonemena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
*      Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka sikap toleransi akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan  para da’i  akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menompang.
*      Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan dibarisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
*      Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka hati seorang da’i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.
*      Jika komitmen da’i terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah “ Saya sedar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin anda akan selalu memaafkan saya”.
*      Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka tidak mungkin akan terjadi pencerobohan dalam menunaikan kewajipan dan tugas dakwah. Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.
*      Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap da’i, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia kerana dia selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kebaikan atau mencegah kemungkaran.  Atau menjadi murobbi yang gigih mendidik da mengajari anak buahnya. Da’i yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
*      Jika komitmen da’i  benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajipan kewangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun. Semboyannya adalah “Apa yang ada padamu akan habis dan apa yang ada disisi Allah akan kekal”
*      Jika komitmen benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan patuh dan taat tanpa merasa ragu atau bimbang.  Di dalam benaknya, tidak ada lagi erti keuntungan peribadi dan menang sendiri.
*      Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka setiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada para pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakan kebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip dakwah dalam hatinya.
*      Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah…
APAKAH BENTUK KOMITMEN SAYA TERHADAP DAKWAH?
“Berdakwah untuk menyeru kepada kebaikan, menyeru agar manusia kembali kepada Allah”
Apakah tanda-tanda komitmen yang tulus
  • Memahami Kondisi Masyarakat
Seorang da’I harus memahami kondisi masyarakat, sejarah kelahiran dan bagaimana perkembangan dakwah.
a.       Perselisihan pemikiran dan propaganda Barat
Pemikiran-pemikiran barat yang begitu mudah diterima oleh masyarakat, dan dirasa begitu hebat, bahkan banyak yang tertipu oleh propaganda, tipu muslihat bangsa Barat.
b.      Serangan Liar
Serangan liar ini dating dari pihak penjajah dengan membawa kebiasaan dan tradisi Barat yang menghancurkan Negara-negara Islam.
c.       Misi Kristenisasi
d.      Imam Hasan Al-Banna menentang Kristenisasi
Imam Hasan Al-Banna berhasil meyakinkan para ulama untuk bersama-sama menentang kristenisasi.
e.       Sang Da’I tampil ke pentas
Peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu mengiris hati, sehingga membangkitkan semangat untuk membela Islam di hati Imam Hasan Al-Banna, kemudian mendorong untuk mendirikan berbagai lembaga yang berusaha memberantas kemungkaran.
f.       Benih-benih Dakwah
Pada suatu ketika dakwah Imam Hasan Al-Banna begitu mengesankan bagi enam orang pemuda. Kemudian bersama keenam pemuda inilah membentuk benih pertama gerakan Ikhwatul Muslimin.
g.      Imam Hasan Al-Banna mulai berdakwah di lapangan
Langkah-langkah praktis yang ditempuh generasi awal IM
-          Mengunjungi kafe-kafe kemudian berceramah
-          Mendata orang yang meninggal setiap harinya kemudian mengunjunginya untuk takziyah
-          Mengajarkan murid-muridnya ceramah dan pidato diwaktu malam
h.      Gambaran Umum
-          Mesir adalah Negara yang dipisahkan dari induknya
-          Penduduk Mesir adalah orang-orang yang beriman namun tidakberpendidikan dan miskin
-          Penjajah Mesir sangat kuat, pintar, pandai menipu dan membuat makar.
-          System pemerintahan bersifat dzalim dan berbentuk kerajaan
-          Kondisi Negara-negara Arab dan Islam lainnya tidak lebih baik dari mesir.
i.        Sebuah Dakwah yang Komprehensif
Hadirlah gerakan dakwah ikhwanul Muslimin yang mengusung komprehensivitas Islam (syumul al-Islam) karena menurut ikhwan, Islam berfungsi sebagai Negara dan bangsa, atau pemerintah dan umat.
  • Memahami Aqidah yang Menjadi Landasan Dakwah
Imam Hasan Al-Banna memilih aqidah Islam yang diridhoi oleh Allah sebagai landasan dakwahnya, sekaligus acuan dalam menentukan setiap tujuan dan sarana dakwahnya.
Tidak logis jika seseorang bergabung dengan suatu gerakan dekwah-dakwah apapun tanpa mengenali aqidah yang dianutnya, atau tidak mengetahui dasar dakwah tersebut karena bias saja aqidah itu bersebrangan dengan keyakinan agamanya
Fikrah Ikhwanul Muslimin yang digagas oleh Imam Hasan Al-Banna adalah fikrah islami yang tercerahkan dan berlandaskan Islam, yang menjadi sumber aqidahnya.
Setiap dakwah dan aliran memiliki kekhasan yang membuatnya berbeda dengan yang lainnya. Setiap kelompok memiliki akidah yang menjadi landasannya dan pilar-pilar yang menjadi sandarannya. Oleh karena itu, adalah tidak logis jika seseorang bergabung dengan suatu gerakan dakwah tetapi tidak mengetahui landasan dan sandaran pergerakan dakwah tersebut. Jangan-jangan selama ini ia telah bergabung pada sebuah gerakan dengan landasan aqidah yang tidal sesuai dengan ajaran Islam yang murni.
Lalu siapakah dakwah yang kita ikuti ini? Dakwah ini menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai landasan dan sandaran perjuangannya. Dakwah kita adalah dakwah salafi, tarekat sunni, dan hakikat sufi. Sebagaimana ia juga adalah lembaga politik, klub olah raga, serta perusahaan bisnis dan kelembagaan masyarakat. Demikianlah, komprehensivitas Islam telah membentuk komprehensivitas pemikiran kita tentang semua aspek islah (reformasi).
  • Yakin dengan Tujuan, Sasaran, dan Sarana Dakwah
Rasa kagum dan bangga terhadap dakwah tidaklah cukup untuk dijadikan indikator afiliasi bagi positif seseorang. Sulit dibayangkan bagaimana seseorang dapat memberikan kesetiaan kepada gerakan dakwah jika ia tidak tahu tentang tujuan, sasaran dan sarana dakwah itu sendiri. Jika itu benar, maka bagaimana ia mengenal dakwah yang diusungnya? Apa yang ia dakwahkan ketika ia tidak tahu kemana harus para mad’u-nya harus ia bawa?
Oleh sebab itu, perkara yang harus dilakukan oleh kader dakwah pertama kali adalah dengan mengenali dan mempelajari gerakan dakwah yang diikutinya. Setelah ia mencapai pemahaman yang baik kemudian menerimanya, maka tahap selanjutnya adlah bekerja keras untuk mencapai sasaran dan tujuan dakwah dengan menggunakan sarana-sarana dan mengikuti setiap kegiatan dan pentahapan yang telah ditetapkan dalam gerakan dakwah tersebut.
  • Komitmen dengan Sikap Dakwah Terhadap Aliran Dakwah yang lain
Syaikh Mustafa Mashyur rahimahullah berkata, “semua kader harus mengetahui bahwa memegang teguh system dan peraturan organisasi adalah masalah prinsipil sehingga aktivitas untuk mencapai tujuan dapat terjamin dan berjalan dengan baik. Menunaikan janji yang pernah diungkapkannya untuk organisasi adalah bagian dari ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT serta termasuk bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT yang terbaik” (dalam Al-Qa’id Al-Qudwah, halaman 92).
Sikap dakwah kita terhadap aliran dakwah kontemporer yang melangkah terlalu jauh dari prinsip-prinsip Islam sehingga menimbulkan perpecahan dan mengacaukan pemikiran harus dinilai dengan prinsip dakwah kita. Jika ada hal yang cocok, kita menerimanya, namun jika ada hal yang berbeda kita menolaknya. Kita percaya bahwa dakwah kita bersifat integral, sehingga sekecil apapun kebaikan yang ada dalam aliran dakwah lain kita akan mengakuinya.